Tepat seminggu (24/12/09)yang lalu adik saya yang paling bontot menerima “Laporan Hasil Belajar Peserta Didik SMA” yang lebih kita kenal dengan raport. Saya menjadi wali dari adikku yang menggantikan orang tua yang tidak memungkin bisa hadir dalam mengambil raport siswa.
Adikku bersekolah di SMA Negeri 3 Kota Bekasi yang terletak di kawasan Galaxy Bekasi Barat yang tidak jauh dari MM (Metropolitan Mall). SMA Negeri 3 Kota Bekasi seperti halnya seperti sekolah-sekolah negeri lainnya jadi teringat dengan sekolahku dulu di SMA Negeri 3 Kota Palembang gak jauh-jauh beda.
Saat berada dilokasi sekolah para orang tua dan wali telah antri untuk mengambilkan raport untuk anak maupun saudaranya yang bersekolah, pada saat itu hanya kelas 10.6 aja yang menerima raport sehingga tidak begitu ramai situasi disekolah hanya sebagian orang tua/wali, guru dan siswa yang ada disekolah. Pada saat mendapatkan giliran mengambil raport ditanya oleh guru BK (Bimbingan dan Konseling) ditanya seputar kehidupan dirumah, nilai mata pelajaran dan absensi, dan alhamdulillah nilai adikku lumayan diatas nilai standar (sedangkan nilai standar adalah angka 7), ada beberapa nilai yang kurang standar yaitu Matematika dan Fisikia.
Saya sangat terkejut ketika melihat hasil raport atau “Hasil Laporan Belajar Peserta Didik Sekolah Menengah Atas” ada penilaian antara Mata Pelajaran dengan Ketercapaian Kompetensi sehingga saya menilai bahwa penilaian sangat objecktif sekali, dicontohkan Mata Pelajaran Pendidikan Agama = lancar dan benar membaca Al-Qur’an dan mengaplikasikan ibadah, Fisika = konsep besaran fisika, pengukuran dan konsep kinematika dan dinamika benda titik belum dikuasai, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)= mampu mengoperasikan sistem windows dan program aplikasi yang lebih rumit.
Bagi saya penilai ini sangat objecktif sekali, mengapa??? karena sedemikian rupa setiap siswa dinilai per mata pelajaran dan hal apa yang dikuasai dan apa yang perlu dipelajari lebih lanjut dan bisa sebagai bahan evaluasi bagi orang tua untuk mengetahui sejauh mana anaknya bisa memahami pelajaran yang diajarkan disekolah sehingga dirumah bisa dibimbing oleh orang tua maupun walinya.
Tidak halnya seperti sekolah saya dahulu di Palembang yang tidak ada penilaian kompetensi siswa sedemikian detilnya untuk diperhatikan oleh Orang Tua dan bahkan kami dahulu dengan leluasa bisa bolos sekolah tanpa tertera absen di raport. sebuah kemajuan pendidikan di kota Bekasi dalam menerapkan aspek psikologi didalam sekolah dan mengikut sertakan orang tua dalam mencerdaskan anak didik siswa.
Ini tidak lepas dari perhatian pemerintah kota Bekasi dalam memperhatikan pendidikan, pendidikan adalah sebuah alat untuk mencerdaskan bangsa bahkan bisa mengatasi segala kesulitasn ekonomi, sosial dan lain sebagainya yang dialami wilayah bangsa Indonesia, sering memperhatikan waliktota Kota Bekasi Pak Mochtar Mohammad yang ramah dan begitu loyal ke sekolah SMKN 1 Kota Bekasi yang kebetulan tepat di depan rumah Orang Tua saya. sehingga berfikir pemerintah sangat peduli dengan pendidikan di Kota Bekasi.
Comments